Coretan

Setelah kurang lebih tiga bulan ikut suami bertugas di Meulaboh, saya jadi menyadari bahwa orang Jawa, khususnya orang Jogja memang istimewa. Meraka ramah, senang berbasa-basi, senantiasa tersenyum, bahasanya santun, membuat orang-orang selalu rindu dengan kota ini. Dulu waktu saya ikut double degree di Belanda, orang-orang menakut-nakuti saya dengan “Culture Shock”. Tapi demi Allah, saya baru merasakan culture shock yang sebenarnya ketika sampai di Tanah Rencong ini.

Ingin pulang.. I miss you Jogja..

Untuk Saudaraku Muslim di Indonesia

Bismillaah..

Beberapa teman sempat bercerita dan mengeluhkan beratnya menegakkan syariat Islam dan menjalankan dakwah di Indonesia. Ujian dan fitnah keji datang bertubi-tubi dan orang-orang kian jauh dari kebenaran. Media pun begitu keji mengemas berbagai peristiwa agar seolah semuanya terjadi akibat Islam. Orang-orang yang memegang teguh agamanya pun kian dijauhi dan dianggap aneh bahkan ancaman. Orang-orang tidak berilmu angkat bicara dan mengeluarkan statement tanpa dalil bahkan bertentangan dengan ayat-ayat Allah ta’ala dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allahul musta’an..

Saya mendapat banyak pertanyaan senada dari beberapa teman-teman di Indonesia, apakah fitnah-fitnah keji ini hanya terjadi di Indonesia saja atau di luar pun demikian kuatnya. Well..saya tidak punya cukup banyak referensi mengenai hal ini. Tapi saya akan menceritakan sesuatu di sini yang barangkali bisa membesarkan hati saudara-saudaraku muslim di Indonesia yang tetap teguh di jalan kebenaran. Ini bukan cerita yang besar, namun mudah-mudahan Allah ta’ala menjadikannya penguat iman kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan datang suatu zaman dimana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”
(HR. Tirmidzi)

Seperti yang pernah saya katakan, nikmat menjadi muslim Indonesia baru saya rasakan justru setelah menginjakkan kaki di Eropa. Saudaraku, perlu diketahui bahwa hampir semua toilet di sini tidak menyediakan air untuk bersuci, mereka hanya menyediakan kertas tissue. Bagi orang-orang awam, mungkin mereka tidak terlalu pusing dengan urusan ini. Namun bagi orang-orang beriman, tentu ini masalah berat karena berkaitan dengan sah atau tidaknya shalat. Selain itu, mencari tempat wudhu di sini tidaklah semudah di Indonesia. Wudhu di wastafel toilet bukanlah hal yang gampang dan hanya akan menimbulkan kecurigaan. Itulah mengapa muslim-muslim di sini senantiasa dituntut untuk menjaga wudhunya. Demi menjaga wudhunya itu, mereka sampai sengaja tidak minum seharian supaya tidak perlu buang air dan berwudhu lagi. Subhanallah. Moga Allah ta’ala mengganjar mereka dengan pahala berlipat ganda.

Sikap wara’ (kehatia-hatian) yang lain ditunjukkan dengan menjaga kehalalan makanan mereka. Orang-orang Indonesia umumnya sangat awam soal halal-haram makanan ini sehingga akan kita temui mereka makan di KFC atau Mcd saat berkunjung ke Eropa. Atau kadang mereka membeli nuget siap goreng di supermarket-supermarket. Karena sebagian besar muslim Indonesia beranggapan bahwa asal bukan daging babi, maka halal. Padahal tidak begitu, sila baca Makanan yang Diharamkan dalam Al Quran. Namun, muslim Eropa, bahkan roti dan selai pun kalau bisa mereka membuatnya sendiri di rumah. Saya beberapa kali diundang makan di rumah orang-orang Islam keturunan Maroko, Libya, Turki, dll dan mereka senantiasa meyakinkan saya, “Makanan ini halal insyaAllah, saya membuatnya sendiri, jangan khawatir!” Meski begitu, alhamdulillaah saat ini sudah banyak toko-toko yang menjual daging halal dan makanan halal lain.

Soal shalat pun demikian sulitnya. Di Indonesia, tiap sekolah, kampus, atau instansi lain pasti ada break shalat dzuhur atau paling tidak jeda istirahat. Di acara-acara pun umumnya disediakan waktu untuk shalat. Di sini, wallahi, bahkan ujian pun bisa diadakan di waktu shalat jumat. Saya tidak tahu di kampus lain, tapi di kampus saya tidak ada break makan siang, jadi tidak ada kesempatan untuk shalat dzuhur. Umumnya para mahasiswa memakan bekalnya di kelas di tengah-tengah pelajaran! Sehingga pilihannya adalah dengan kesadaran meminta izin di tengah pelajaran untuk shalat. Alhamdulillaah dari cerita teman-teman muslim di sini, mereka tidak mendapatkan kesulitan untuk meminta izin keluar saat waktu shalat. Di luar kampus, mencari tempat shalat adalah tantangan tersendiri. Dari berbagai cerita, umumnya mereka shalat di “kamar pas” di toko-toko baju atau di taman dekat semak-semak.

Cerita lain datang dari teman dekat saya, Haida, yang bertanya tentang pantai di Indonesia. Dia kagum saat tahu banyak orang tetap berhijab saat ke pantai. “Di sini, kalau kamu ke pantai, kamu hanya akan melihat orang telanjang! Fitna, fitna everywhere!” Serunya. (keterangan: fitna dalam bahasa Arab artinya musibah). Lalu dia bercerita bahwa untuk menyiasati pemandangan tidak menyenangkan di pantai, ia dan keluarganya biasa ke pantai saat musim dingin di mana orang-orang akan memakai pakaian tertutup. Atau saat summer, mereka akan ke pantai pagi-pagi sekali sehabis subuh saat orang-orang masih terlelap.

Itulah sekilas kehidupan muslim di sini, khususnya Belanda. Terlihat sepele, tapi itulah ujian. Setiap negara punya tingkat kesulitan ujian yang berbeda. Jadi untuk saudara-saudaraku muslim di Indonesia, jangan bersedih. Jangan putus asa dan jangan malu dengan agama ini, teruslah berdakwah dan menyebarkan kebenaran, istirahatnya nanti di surga saja, insyaAllah.

QS.Al-Ankabut 29:2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

QS.Muhammad 47:31. dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.

QS.At-Taubah 9:16. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Shalat Jenazah Pertama

Bismillaah..

Untuk pertama kalinya saya menghadiri shalat jenazah di negeri lain. Hari Rabu lalu, Haida mengajak saya menghadiri shalat jenazah di Masjid Selwerd. Shalat tersebut untuk seorang muslimah, muallaf yang sudah 17 tahun memeluk Islam. Beberapa tahun ini ia mengidap kanker dan memang sudah diprediksi bahwa hidupnya tak lama lagi. Sebenarnya wanita ini wafat Hari Senin, namun barangkali karena prosedur pemakaman di Belanda tidak semudah di Indonesia, jenazah baru bisa dimakamkan dua hari kemudian.

Saya tidak pernah bertemu wanita ini sebelumnya. Namun saya yakin almarhumah adalah seorang yang baik dan shalihah, melihat penuh sesaknya masjid dengan jamaah yang hendak menyolati. Saya melihat teman-teman mengaji di Masjid Turki dan teman-teman muslim satu kampus juga hadir. Hampir seluruh muslim di kota ini sepertinya ikut menyolati.

Shalat jenazah dilangsungkan selepas shalat dzuhur berjamaah. Ruang shalat benar-benar penuh, lebih penuh dari shalat Jumat. Setelah shalat dzuhur, sempat ada khutbah singkat dalam bahasa Arab dan Belanda. Di perjalanan pulang, Haida sempat menjelaskan sekilas isi khutbah. Kemudian dia bertanya, lebih kepada dirinya sendiri, “Aku penasaran, ketika aku mati nanti, dalam keadaan seperti apakah aku akan menghadap Rabb-ku? Apakah dalam keadaan beriman, atau bermaksiat kepadaNya?”

Banyak sekali dari kita hari ini lebih pusing memikirkan kehidupan dunia. Sedikit sekali yang memikirkan apa yang akan dibawa nanti ketika kita menghadap Yang Maha Kuasa. Padahal ketika kita mati, tak ada satupun dari harta, teman, atau keluarga yang akan menemani kita di alam kubur selain amal kita..

“…Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal keni’matan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (QS. At Taubah:38)”

Masjid dan Muslim di Eropa

Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya kaum mukminin itu adalah bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Bismillaah..

Kadang saya berpikir, begitu menyenangkan dan mudah menjadi muslim di Indonesia, namun sedikit sekali kita bersyukur. Saya baru menyadari begitu nikmatnya menjadi Muslim di Indonesia, jauh lebih beruntung daripada saudara kita muslim di Eropa. Mereka, muslim di Eropa, daripada ditakuti dan dibenci sebagai teroris, rasanya lebih pantas disantuni dan dikasihani. Tak hanya kesulitan beribadah, kebanyakan muslim di sini hidup di status sosial yang rendah dan bertahan dengan tunjangan dari pemerintah.

Soal dunia, mereka memang jauh di bawah kita. Tapi soal iman dan keshalihan, wallahi, mereka jauh, jauuh, jauuh di atas kita. Allahul musta’an.

Hal yang paling menyentuh dari kehidupan Muslim di Eropa adalah masjidnya. Tidak seperti di Indonesia yang masjidnya hanya ramai di ramadhan, masjid-masjid di Eropa, meski kecil dan sederhana, senantiasa makmur dengan majelis ilmu dan menjadi penyambung nafas dakwah di tengah umat. Kadang saya berpikir, sementara muslim disini berjuang dengan dakwahnya di masjid, remaja kita di Indonesia justru lebih suka menyesaki bioskop, cafe, dan mall. Allahul musta’an.

Groningen

Tak banyak muslim di kota ini, namun satu sama lain mengenal seperti saudara sendiri. Hanya ada dua masjid di sini; Masjid Turki dan Masjid Selwerd.

Masjid Selwerd

Masjid ini sangat kecil, sederhana, dan jauh dari kesan megah. Tidak ada kubah di atasnya. Tidak akan ada yang mengira bahwa bangunan kecil di pinggir danau itu adalah sebuah rumah ibadah. Ruang shalat untuk wanita berada di lantai dua. Sebenarnya masjid tersebut adalah bangunan berlantai satu, namun mereka menyulap lotengnya menjadi ruang shalat. Tangganya untuk ke lantai dua sangat curam dan berbahaya. Ruang tersebut juga terlalu kecil untuk menampung jamaah yang jumlahnya terus bertambah. Setiap tahun, jumlah warga Belanda yang memeluk Islam juga terus bertambah. Sudah dari tahun 2010 masjid ini direncanakan akan diperluas, namun sampai sekarang belum terwujud. Bagi pembaca yang membaca tulisan ini, kiranya berkenan menyelipkan sebait doa di antara doa-doa pribadi kita bagi terwujudnya perluasan masjid ini.

Pengalaman shalat jamaah pertama di masjid ini sangat menyentuh. Muadzin mengumandangkan azan tanpa pengeras. Hanya jamaah di dalam masjid yang dapat mendengarnya. Masjid segera penuh. Saya melihat para wanita berdatangan bersama anak-anak mereka. Mereka memberikan salam dengan wajah berseri-seri seolah mereka sedang masuk ke sebuah istana yang megah. Saat shalat siap didirikan, dengan sigap para jamaah merapatkan dan meluruskan shafnya. Saya terpukau bagaimana mereka saling mengingatkan bila ada yang membuat shaf tidak lurus atau renggang. Masjid kecil itu entah mengapa menjadi terasa luas bagi saya. Inilah ukhuwah.

Masjid Turki

Masjid Turki ini awalnya adalah sebuah gereja yang kemudian dibeli oleh muslim-muslim keturunan Turki untuk dijadikan masjid.

Kunjungan ke masjid ini bermula dari ajakan seorang teman untuk bergabung dalam kelas baca Al Quran akhir Januari lalu. Di sana saya mendapat saudara-saudara baru. Kelas tersebut khusus muslimah, tidak ada pria di sana. Kelas diadakan setiap Minggu sore. Kami belajar tahsin dan tajwid. Para ummahat membawa serta anak-anak mereka. Saya lagi-lagi terpukau melihat bagaimana anak-anak ini sangat santun dan bersikap sangat manis. Tidak ada yang menangis, berteriak-teriak, lari ke sana kemari membuat kegaduhan, atau tertawa terbahak-bahak. Semuanya duduk dengan manis di kursinya masing-masing. Mungkin inilah anak-anak yang dididik orang tuanya dengan didikan Al Quran. Di akhir kelas, kami makan bersama. Hanya ada kue-kue dan teh atau kopi, tapi kebersamaan yang saya rasakan luar biasa bermakna. Sambil menyantap kue, mudarris kami memberikan kuliah singkat. Sayang ia hanya bicara dengan bahasa Arab sambil sesekali diterjemahkan ke bahasa Belanda karena tidak semua muslimah di sana bisa berbahasa Arab. Namun, hanya dengan duduk bersama orang-orang ini, iman rasanya semakin bertambah.

Saya jarang shalat di masjid karena kami memiliki ruang shalat khusus di dalam kampus. Sehingga kami biasa shalat di kampus. Satu hal yang unik dari mushalla di kampus adalah bagaimana muslim-muslim di sini menghindari ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan), sesuatu yang bahkan tidak terpikirkan oleh saya di Indonesia. Ruang shalat ini sebenarnya adalah semacam meditation room untuk semua agama yang berukuran kecil tanpa hijab. Meski begitu, kebanyakan yang memanfaatkan ruangan ini adalah para mahasiswa muslim. Karena ruangannya kecil dan tanpa hijab, biasanya para ikhwan dan akhawat memakai ruangan ini secara bergantian. Kalau yang masuk duluan perempuan, maka para laki-laki berdiri menunggu di luar, begitu juga sebaliknya. Saya tidak yakin hal semacam ini bisa terjadi di Indonesia kalau tidak pernah benar-benar “ngaji” sebelumnya. Selain itu, umumnya para ikhwan senantiasa ghadul bashar bila berpapasan dengan muslimah lain. Subhanallah..

Paris

Masjid di Paris barangkali tempat paling berkesan bagi saya karena dari sana saya mendapat teman baru yang sampai sekarang masih sering mengontak. Saya cukup kesulitan mencari masjid di sana karena tidak ada sinyal untuk mengaktifkan google maps. Banyak yang bilang orang Paris tidak suka dengan turis dan sangat pelit kalau ditanya arah. Tapi alhamdulillaah, tidak dengan saudara muslim. Ketika saya sedang putus asa di stasiun metro karena tidak tahu di mana saya berada dan tidak tahu metro berapa yang harus saya ambil untuk ke masjid terdekat, dua orang muslim dan muslimah membantu saya. Mereka dengan bahasa Inggris yang terbata-bata menjelaskan cara mencapai masjid tersebut dengan metro.

Sesampainya di masjid, saya masuk ke dalam. Akan tetapi, saya tidak melihat tempat shalat sebagaimana lazimnya masjid. Di dekat pintu masuk, ada taman yang cukup indah, kemudian di dalamnya ada semacam hall. Selain itu yang paling aneh, tempat tersebut ramai sekali orang dan sepertinya tidak semuanya muslim. Akhirnya saya tahu bahwa tempat itu difungsikan juga sebagai museum. Tempat shalatnya sendiri entah kenapa ditaruh di ruang bawah tanah. Ruang wudhu untuk perempuan berada di tempat yang jauh terpisah dari tempat shalat. Dan yang paling menyedihkan, tidak ada air panas. Wallahi, waktu itu adalah winter dan airnya luar biasa dingin.

Ada hal menarik yang saya temui lagi. Ketika hendak mengambil wudhu, saya bertemu dengan seorang wanita bule yang sedang mengambil air wudhu. Rambutnya pirang dan matanya biru. Saya meminta dia menunggu saya karena saya tidak tahu tempat shalatnya dimana. Ketika saya selesai wudhu, saya terkejut karena wanita tersebut ternyata mengenakan hijab hitam yang panjangnya sampai menutupi betis. Masyaallah. Sayang wanita asli prancis itu tidak bisa bahasa Inggris jadi kami tidak banyak mengobrol.

Usai shalat, saya tetap berada di dalam masjid untuk ngaso. Di sana saya melihat pemandangan yang menyentuh. Di salah satu sudut ruangan, tampak beberapa wanita sedang belajar membaca Al Quran dengan seorang mudarris (guru) yang tampak sangat tegas. Beberapa sudah cukup berumur. Saya duduk di sana kira-kira 2 jam dan sejak saya datang, mereka hanya mengulang-ngulang satu surat: Al Fiil.  Subhanallah, begitu sabarnya para penuntut ilmu ini. Di salah satu sudut lain, dua orang wanita sedang setoran hafalan. Terselip rasa malu ketika melihat semangat para wanita ini. Di tengah keterbatasan fasilitas, semangat menuntut ilmu agama di jalan Allah begitu besar. Sementara di sini, saya hanya sibuk menuntut ilmu dunia yang barangkali tidak ada nilainya di mata Allah. Para wanita ini barangkali jauh lebih mulia di mata Allah dibanding saya dan secuil ilmu agama yang saya miliki.

Menjelang magrib, tiba-tiba seorang wanita bersama dua anak perempuan menghampiri saya untuk menanyakan tempat wudhu wanita. Saya mengantarkan mereka ke tempat wudhu. Setelah shalat magrib, kami bercengkerama. Wanita tersebut bernama Anisa, seorang dokter dari Algeria namun sempat sekolah di Prancis dan ia kesini untuk berlibur bersama keluarga. Ia menguasai bahasa Arab dan Prancis, namun tidak terlalu fasih berbahasa Inggris. Ia bertanya, “Kamu tidak bisa bahasa Arab?” sebuah pertanyaan yang sama persis dengan ayah Haida (baca Trip ke Rotterdam bagian 2).

“Kamu harus belajar bahasa Arab karena bahasa Arab bagian dari agama kita,” kurang lebih begitulah pesannya sebelum kami berpisah. Lagi-lagi nasihat yang cukup menampar dan menggugah di saat bersamaan. Kami mengobrol cukup banyak dan sempat bertukar kontak. Hampir setiap akhir pekan ia menelpon saya lewat skype. Ada satu hal yang membuat saya tertegun di akhir perjumapaan kami. Di saat orang-orang umumnya akan melakukan selfie sebagai tanda kenang-kenangan atas suatu perjumpaan lalu mengunggahnya di sosial media, perpisahan dengan dokter Anisa diakhiri dengan satu permohonan, “Please don’t forget me in your du’a.” Tolong ingat saya dalam doa-mu. Begitulah pesannya sebelum kami berpisah.

Hal terbaik menjadi seorang muslim di negara non muslim adalah setiap muslim di negara tersebut akan senantiasa terasa bagai saudara sendiri. Bagaimana mungkin saya tidak meleleh menerima ucapan salam dari orang yang sama sekali tidak saya kenal di jalan. Atau di akhir suatu perjumpaan, mereka akan mengucapkan “jazaakillaahu khairan” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), atau seseorang asing yang mengucapkan “fii amanillah” (semoga dalam lindungan Allah) ketika hendak turun dari kereta. Bersama mereka, semuanya tentang doa dan semuanya tentang mengingat Allah.

Salah satu yang paling terasa adalah soal menebarkan salam. Barangkali baru di sini saya mendapat ucapan salam lengkap dengan senyuman hangat dari orang asing di jalan, di bis, di mana saja. Benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Mahukah kalian aku tunjukkan suatu perbuatan yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai?” yaitu: “Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 93)

Sekian, semoga bermanfaat.

Trip ke Rotterdam (bagian 3)

Bismillahirrahmanirrahim…

Pernyataan Rezin mengingatkan saya pada perjumpaan dengan mahasiswi Belanda lain di mushola kampus, muslimah blasteran Belanda-Maroko. Ayahnya adalah imigran dari Maroko, sementara ibunya adalah seorang muallaf Belanda. Waktu itu saya juga menanyakan bagaimana interaksinya dengan teman-teman Belanda yang kebanyakan non-muslim. Dia bilang, “Mereka sangat baik, tapi saya tidak banyak bergaul dengan mereka. Alhamdulillaah saya punya beberapa teman muslim dan saya berusaha mencari teman yang membuat saya menjadi muslim yang baik.” Allahu akbar. Begitu mudahnya kita lupa bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Saya pun merenungkan dengan siapa saya berteman selama ini, apakah teman-teman yang mendekatkan saya kepada Allah subhanallahu wa ta’ala atau menjauhkannya. Di sini, muslim di Eropa tidak punya banyak pilihan teman, tapi mereka begitu selektif dan hati-hati dalam memilih siapa yang menjadi teman dekatnya. Kita punya banyak pilihan teman yang shalih di Indonesia, tapi seringkali kita meninggalkannya dan memilih bergaul dengan teman yang menjauhkan kita dari Allah subhanallahu wa ta’ala.

Haida mengucapkan sesuatu yang membuat saya hampir menangis ketika kami membicarakan soal ini, “InsyaAllah kita nanti akan menjadi sahabat di syurga, insyaAllah.” Katanya.

Sekitar pukul sepuluh, adik laki-laki Haida pulang bersamaan dengan kedatangan bibinya. Bibi Haida membawa sepanci Halwa, makanan khas Iraq. Bibi Haida lama tinggal di Iraq dan suaminya dulu orang Saudi sehingga ia lebih lancar berbahasa Arab daripada Kurdi. Jadilah di ruangan itu kami berbicara 4 bahasa. Haida lebih sering menggunakan bahasa Belanda ketika berbicara dengan adik-adiknya. Dengan orang tua, mereka bicara bahasa Kurdi, dan ketika berbicara dengan bibinya, mereka menggunakan bahasa Arab. Dan tentu saja mereka harus menggunakan bahasa Inggris ketika berbicara dengan saya. Namun meski saya tidak paham dengan apa yang mereka obrolkan, entah mengapa saya merasa seperti sedang di rumah sendiri, bersama keluarga sendiri. Inilah nikmatnya agama ini, diin ini.

Saya hanya bisa diam sambil bengong ketika tiba-tiba mereka berbicara dengan nada agak tinggi seperti sedang berdebat tentang sesuatu. Semua orang di ruangan itu berebut ingin berbicara. Saya memasang muka penasaran tentang apa yang sedang mereka bicarakan. Suasana menjadi agak tenang ketika ayah Haida angkat bicara. Dari logatnya sepertinya beliau bicara dengan bahasa Arab, dan beliau berkali-kali mengucapkan kata InsyaAllah.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya saya pada Haida.

Jawaban Haida membuat saya tertawa geli. Ternyata tidak di Indonesia, tidak di sini, masalah yang dibahas anak muda sama saja; nikah. Haida sudah beberapa kali menolak pinangan dari beberapa laki-laki dan orang tuanya mulai frustrasi. Waktu saya tanya alasannya, ternyata ia tidak bisa menerima laki-laki yang tidak memelihara jenggot. Saya tanya “Why??”

“Memelihara jenggot adalah sunnah rasul. Mengikuti sunnah rasul adalah tanda lelaki beriman. Bagaimana bisa kita meyakini seseorang beriman bila sunnah rasul saja tidak dilakukan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR. Muslim no. 625) Selanjutnya silakan baca Hukum Memelihara Jenggot.

Orang tua Haida tidak mengizinkan Haida menikah dengan laki-laki non-Kurdi, sementara tidak banyak laki-laki Kurdi yang menjalankan sunnah. Kita doakan semoga Allah membukakan jalan kemudahan dan Haida segera dipertemukan dengan laki-laki shalih pilihan Allah subhanallahu wa ta’ala.

Lalu saya bertanya apa yang dikatakan ayahnya sampai semua orang di ruangan itu diam. “Ia menasihati kami agar jangan berkata ‘kami akan begini besok, kami akan begitu besok’, kecuali dengan mengucapkan InsyaAllah.”

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya kau akan mengerjakan itu besok pagi’, kecuali (dengan menyebut), ‘Insya-Allah’. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”

(QS. Al-Kahfi: 23-24)

Kami mengobrol sambil makan Halwa buatan bibi Haida, bubur yang direndam dalam susu. Kemudian untuk pertama kalinya saya makan buah tiin atau di Eropa biasa disebut fig. “Ini adalah buah yang mulia karena Allah ta’ala sebut namanya dalam Al Quran.” Kata ibu Haida.

Hari sudah sangat malam dan kami bersiap tidur. Rencana besok Haida akan mengajak saya mengunjungi masjid terbesar di Rotterdam lalu jalan-jalan di sekitar centraal menggunakan mobil. Selain itu, Haida mengenal wanita Indonesia yang menikah dengan pria Turki dan tinggal tidak jauh dari masjid. Kami berencana mengunjungi mereka besok.

Salju di Rotterdam

Di bagian ini saya akan mengakhiri kisah perjalanan saya di Rotterdam. Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal, keesokan paginya, untuk pertama kalinya saya melihat salju turun dari langit. Meski pada akhirnya kami tidak jadi kemana-mana karena salju yang turun lebat, saya mensyukuri atas nikmat Allah yang lain berupa nasihat dan keluarga baru dalam Islam. Sungguh begitu besar nikmat dan karuniaNya berupa agama ini. Moga Allah teguhkan hati kita di atas agama ini hingga akhir hayat kita.

Trip ke Rotterdam (bagian 2)

Bismillah..

Cerita berikutnya setelah sampai di Stasiun Rotterdam Centraal sebenarnya sangat seru bagi saya, tapi tidak penting untuk diceritakan. Intinya saya naik tram yang salah dan tersesat di tengah ramainya kota Rotterdam selama beberapa jam dan baru sampai di rumah Haida ketika hari sudah gelap.

Saya tiba di rumah Haida sekitar pukul 6 sore. Ayahnya menyambut saya dengan ramah. Sayangnya orang tua Haida tidak bisa bahasa Inggris, mereka hanya bicara bahasa Kurdi dan Arab, dan sedikit bahasa Belanda. Saya bersyukur kami adalah muslim sehingga ucapan “Assalaamu’alaykum” pun terasa lebih dari cukup untuk mengungkapkan rasa kasih dan sayang. Ibunya mengecup pipi saya ketika saya hendak menyalaminya. Kata Haida, beliau sangat khawatir waktu saya tersesat di tengah kota tadi.

Haida punya dua orang adik, perempuan dan laki-laki. Adik perempuannya bernama Rezin dan adik laki-lakinya bernama Muhammad. Rezin sedang duduk menonton televisi ketika saya tiba. Ia mengenakan hijab pashmina yang dililit sekadarnya. Muhammad sedang tidak di rumah waktu itu karena sedang mengikuti kegiatan dakwah. Kebetulan, bibi dan sepupu Haida akan berkunjung ke rumahnya hari itu. Haida bilang kami akan tidur di rumah bibinya yang kosong supaya lebih nyaman.

Setelah shalat, sepupu Haida datang dan kami semua makan malam bersama. Ibu Haida membuat Kofta, makanan khas Kurdistan. Selain itu juga ada semacam nasi briani dengan ikan panggang dan taburan kismis. Minumannya adalah yogurt dengan sesuatu seperti rumput yang ditaburkan di dalamnya. Tapi itu rasanya enak banget!

Seusai makan, kami berkumpul di ruang tengah dan mengobrol. Ayah dan Ibu Haida terlihat sangat ingin mengobrol dengan saya dan bertanya tentang Indonesia. Haida dan Rezin pun menjadi penerjemah. “Kamu tidak bisa bahasa Arab?” Tanya ayahnya. Saya bilang saya bisa sedikit menangkap percakapan sederhana, tapi tidak terlalu bisa bicara.

“Lalu bagaimana kamu membaca Al Quran?” tanyanya lagi. Saya bilang tentu saja saya bisa membacanya.

“Kamu harus belajar bahasa Arab supaya kamu bisa lebih memahami apa yang kamu baca di Al Quran.” Tandasnya sambil tersenyum. Saya tertohok mendengar nasihat itu.

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Pelajarilah bahasa arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.”

Sejak saya tiba, tayangan di televisi adalah channel berita berbahasa Kurdi. Di ganti-ganti channel pun, beritanya tetap sama, konflik dan perang di timur tengah. Saya bertanya apa yang terjadi di sana. Sepupu Haida tertawa melihat ekspresi ngeri saya dan menjelaskan bahwa tayangan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Awalnya mereka juga ketakutan dan sedih, namun pada akhirnya itu semua menjadi biasa.

Haida pun menceritakan tentang kampung halamannya, Kurdistan. Waktu pertama kali berkenalan dengannya dan dia bilang berasal dari Kurdistan, saya mengernyitkan dahi dan bertanya, “Where is it?” Sampai akhirnya saya tahu bahwa negara itu tidaklah eksis, I mean, literally tidak ada. Karena Inggris sudah membaginya ke 4 negara; Turki, Syiria, Iran, dan Iraq. Secara geografis, keluarga Haida berasal dari Iraq. Tapi kebanyakan orang-orang Kurdi akan tetap mengatakan mereka berasal dari Kurdistan kalau ditanya. Cerita selanjutnya sangat complicated sebagaimana cerita para imigran lain dari negara-negara timur tengah yang direnggut ketenangan hidupnya dan terpaksa mencari kehidupan lain di negara Eropa. Keluarga Haida pindah ke Netherlands ketika Haida baru berusia 7 atau 9 tahun. Ya, orang-orang biasa seperti Haida dan keluarganyalah yang harus menjadi korban keserakahan manusia yang ingin menguasai kekayaan alam negara-negara tersebut.

Saya mengobrol sangat seru dengan Rezin karena Haida sedang sibuk melayani pelanggan di online shopnya. Bisnis Haida adalah hijab syar’i, abaya, niqab, jilbab, dan semacamnya yang barang-barangnya diimpor dari Mesir. Saya teringat obrolan di pertemuan kami yang kedua dalam perjalanan ke Masjid Selwerd. Dia bilang, “Saya ingin sekali tinggal di Indonesia!” Saya tertawa geli. Saya bilang saat ini orang-orang Indonesia sedang mempertimbangkan untuk keluar dari Indonesia (termasuk saya), kamu malah pengen ke sana. “Sebaiknya kamu mengurungkan niat tersebut sebelum menyesal.”

Umumnya orang-orang barat ingin ke Indonesia karena mereka suka pantainya, atau alamnya yang indah, atau cuacanya yang panas. Tapi alasan Haida sungguh berbeda. Dia ingin tinggal di Indonesia karena dia mengira hukum Indonesia berada di bawah Sharia Law. Saya tertawa miris kali ini. Saya bilang Indonesia itu negara demokratis, orang-orangnya juga banyak yang sekuler. Tadinya saya juga mau menambahkan kalau kolom agama di KTP saja mau dihapus dan menikah beda agama diperbolehkan, tapi urung.

“Tapi saya lihat semua orang Indonesia yang saya temui mengenakan hijab.” Tambahnya. Saya bilang itu kebetulan saja. Tapi dia bilang dia tetap mau tinggal di sana suatu saat supaya lebih tenang menjalankan syariat Islam.

Mendengar pertanyaan tersebut, saya mengira negara asalnya Kurdistan menerapkan hukum syariah, tapi ternyata negara tersebut sama saja dengan Indonesia. Saya pun diam-diam kagum dengan semangatnya menjalankan syariat dan menghidupkan sunnah di tengah kehidupan di negara seliberal Belanda. Dan kalau kita lihat, mayoritas muslim di Eropa, baik yang born muslim atau revert adalah practicing muslim. Padahal kalau kita pikirkan, kehidupan muslim di Eropa sangatlah keras dibandingkan Indonesia. Di sini mencari makanan halal tidaklah semudah di Indonesia dimana kita bisa nongkrong di restoran-restoran fastfood. Shalat Jumat juga susah, mereka harus sampai bolos kerja atau kuliah (bahkan saat ujian), belum lagi kalau masjidnya jauh. Tidak ada seruan adzan, shalat di awal waktu adalah atas kesadaran masing-masing. Terutama pas winter yang daylightnya pendek, tiap 2 jam sudah ganti waktu shalat. Di Indonesia, adzan sudah memanggil-manggil saja kita masih bisa mengulur waktu shalat. Dan wudhu ketika winter bukanlah hal yang mudah dilakukan karena airnya sangat dingin. Selipkan doa dalam setiap shalat kita untuk saudara-saudara muslim di Eropa agar memperoleh pahala kebaikan dari Allah ‘Azza wa Jalla dan Allah ta’ala ganjar mereka dengan tempat terbaik di jannah. Aamiin.

Yang membuat saya miris adalah ternyata Rezin belum mengenakan hijab ketika di luar rumah selama ini. Haida meminta saya mendoakan Rezin agar segera berhijab (saudaraku, doakan Rezin supaya ia semakin dimantapkan hatinya untuk berhijab). Memang sulit bertahan di negara liberal agar bisa diterima dengan baik tanpa membedakan ras atau agama. Saya menanyakan pada Rezin bagaimana interaksinya dengan teman-teman non-muslim dan bagaimana perlakuan mereka. Ia bilang bahwa teman-temannya baik, tapi ia tidak banyak berinteraksi dengan mereka. Ada satu teman kampusnya yang muslim dan inilah yang menjadi teman dekatnya. Awalnya saya mengira teman-teman Belandanya kurang menerima keberadaan muslim, tapi ternyata alasan yang dia ungkapkan sangat fundamental dan menyentuh bagi saya.

“Saya tidak bisa berteman dengan mereka karena mereka memiliki gaya hidup yang dilarang oleh syariat Islam, you know, like..partying, drinking, and stuff.” Ucapnya. Sungguh miris memang, meski sudah hidup bertahun-tahun di Belanda, ia tetap memegang teguh agama dan tidak mau menjualnya. Sementara kita lihat banyak mahasiswa Indonesia yang baru beberapa bulan di sini, gaya hidupnya sudah kebarat-baratan.

bersambung…

Trip ke Rotterdam (bagian 1)

Bismillahirrahmanirrahim..

Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang kunjungan saya ke kota Rotterdam beberapa waktu lalu. Sebuah kota port terbesar di Eropa dan juga menjadi kota dengan populasi muslim terbesar kedua di Eropa setelah Brussels. Di sini saya mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran berharga. Meski hanya cerita perjalanan, mudah-mudahan apa yang saya bagikan ada manfaatnya bagi para pembaca.

Niat untuk ke Rotterdam ini bermula dari pertemuan dengan seorang akhawat Belanda berdarah Kurdistan di mushola kampus akhir summer lalu. Waktu itu ia mengenakan pakaian lebar yang sering disebut jilbab berwarna ungu gelap. Wajahnya Eropa-Arab. Sekilas saya mengira dia adalah mahasiswa Arab Saudi yang sedang studi di Belanda, tapi usai shalat berjamaah, saya mendengar dia mengobrol dengan bahasa Belanda yang sangat fasih. Ternyata keluarganya asli Kurdistan, tapi sudah lama sekali pindah ke Belanda. Kami berkenalan, mengobrol sedikit, dan bertukar kontak. Bagaimana dia bisa sampai dan tinggal di negara paling liberal di dunia ini, InsyaAllah nanti akan saya ceritakan.

Setelah pertemuan pertama waktu itu saya tidak pernah lagi bertemu dengannya. Hari-hari pun berlalu bersama musim yang berganti dan udara dingin yang semakin menggigit. Christmas break tiba. Kampus kami libur dua minggu penuh. Sejumlah mahasiswa asing bahkan sudah mencuri start libur beberapa hari sebelumnya untuk melakukan trip keliling eropa, memanfaatkan fasilitas visa schengen yang dimiliki. Teman-teman Indonesia saya sudah beberapa hari sibuk menyusun itinerary untuk melakukan perjalanan ke beberapa negara selama kurang lebih dua minggu ini. Saya sendiri, well…waktu itu ada seorang teman yang mengingatkan hadits tentang safar adalah bagian dari azab. Saya pikirkan baik-baik apa manfaat kalau ikut trip keliling eropa ini, selain bisa share foto-foto di sosmed. Kalau mudhorotnya saya rasa sudah jelas: kesulitan mengatur waktu dan mencari tempat shalat (apalagi bila safar dilakukan bersama kawan yang tidak memprioritaskan shalat dalam aktivitasnya), menghabiskan banyak uang, dan belum lagi kesulitan mencari makanan yang halal plus murah. Banyak sekali kesia-siaannya saya pikir. Akhirnya saya putuskan untuk menghabiskan liburan dua minggu untuk jalan-jalan di dalam Belanda saja, mengunjungi beberapa kota yang bisa dihabiskan dalam sehari tanpa menginap.

Suatu ketika, menjelang christmas break, saya  sedang menyusun rencana mengunjungi beberapa kota di Belanda. Tiba-tiba saya teringat Haida, akhawat yang saya temui di mushola kampus tempo hari. Awalnya saya hanya ingin menanyakan apakah di sini ada semacam Islamic class yang disampaikan dalam bahasa Inggris, karena waktu itu saya dalam posisi sangat kangen datang ke majelis ilmu.  Dia bilang hampir semua Islamic class di sini dalam bahasa Belanda, sebagian berbahasa Arab. Tapi dia mengajak saya untuk ikut shalat Jumat di Masjid Selwerd, siapa tahu kita bisa bertanya pada seseorang di sana. Jadilah kami hari Jumat kemudian janjian bertemu untuk shalat Jumat di Masjid Selwerd.

Ini adalah pertemuan kami yang kedua. Ya kedua. Tapi masyaAllah, rasanya seperti kami adalah saudara yang sudah mengenal begitu lamanya dan sudah sering kemana-mana bersama. Sebenarnya bahasa Inggris kami sama-sama tidak terlalu bagus, tapi kami mengobrol sangat banyak dalam perjalanan ke Masjid dari kampus. Mulai soal aqidah, sunnah-sunnah yang mulai ditinggalkan, tentang makanan halal-haram, dan kehidupan muslim di Eropa. Ternyata dia dan keluarganya tinggal di Rotterdam dan hanya ke Groningen untuk tujuan sekolah. Dia juga menguasai empat bahasa: Kurdi, Arab, Inggris, dan Belanda.

Singkat cerita, kami menjadi begitu dekat setelah pertemuan kedua itu dan dia mengundang saya untuk ke rumahnya di Rotterdam sekaligus menginap. Dia bilang bahwa di Rotterdam lebih banyak muslim dan lebih banyak masjid. Dia juga memberitahu bahwa imam di salah satu masjid adalah orang Indonesia, lulusan Islamic University of Madinah. Pikir saya, pasti lebih mudah mencari Islamic class berbahasa Inggris di sana. Saya pun menyambut undangannya dengan senang hati.

Saya akhirnya memahami makna safar adalah bagian dari adzab setelah mengalami berbagai kesulitan dalam perjalanan ke Rotterdam, mulai dari terkunci di luar rumah, ketinggalan bis, perbaikan rel kereta, perubahan jadwal kereta, dingin yang menusuk tulang, tersesat, dan kelaparan.

Singkat cerita saya tiba di stasiun Rotterdam Centraal ketika hari sudah sore. Saya keluar dari gedung stasiun menuju halte-halte tram yang berjajar rapi di dekat gedung. Sejak pertama kali turun dari kereta, saya melihat banyak sekali wanita berhijab. Kebanyakan adalah orang-orang berwajah Turki-Maroko, tapi tidak sedikit juga yang berwajah Eropa dengan mata berwarna biru.

Bersambung..